mencoba berbagi untuk semua

- -

Mungkin kita sering bertanya-tanya mengenai kata ini, mana sebenarnya yang tepat. Apakah silaturrahmi atau silaturrahim. Nah, berikut ini penjelasan mengenai hal tersebut yang saya kutip dari eramuslim

-------------------------------

Yang benar adalah Silaturahim bukan silaturrahmi sebagaimana disebutkan didalam nash-nash hadits tentangnya, diantaranya :


عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ - رضى الله عنه أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ . فَقَالَ الْقَوْمُ مَالَهُ مَالَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « أَرَبٌ مَالَهُ » . فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ ، ذَرْهَا » . قَالَ كَأَنَّهُ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ .

Dari Abu Ayyub Al Anshari radliallahu 'anhu bahwa seorang laki-laki berkata; "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke surga." Orang-orang pun berkata; "Ada apa dengan orang ini, ada apa dengan orang ini." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Biarkanlah urusan orang ini." Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan sabdanya: "Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya, menegakkan shalat, dan membayar zakat serta menjalin tali silaturrahim." Abu Ayyub berkata; "Ketika itu beliau berada di atas kendaraannya." (HR. Bukhari)


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِى الأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِى الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِى الأَثَرِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. وَمَعْنَى قَوْلِهِ « مَنْسَأَةٌ فِى الأَثَرِ ». يَعْنِى زِيَادَةً فِى الْعُمُرِ.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Belajarlah dari nasab kalian yang dapat membantu untuk silaturrahim karena silaturrahim itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga dan memperbanyak harta, serta dapat memperpanjang umur." Abu Isa berkata: Ini merupakan hadits gharib melalui jalur ini.


Berkaitan dengan hal ini, para ulama hadits memberikan judul pada salah satu babnya didalam kitab-kitab haditsnya dengan silaturahim, seperti : Imam Bukhori didalam Shahihnya memberikan judul “Bab Silaturahim”, Muslim didalam Shahihnya dengan judul “Bab Silaturhim wa Tahrimi Qothiatiha”, Abu Daud didalam Sunannya dengan “Bab Silaturahim” dan Tirmidzi didalam Sunannya dengan “Bab Maa Ja’a Fii Silaturahim”


Sedangkan makna Rahim dengan memfathahkan huruf Ro dan mengkasrahkan Ha, sebagaimana dikatakan al Hafizh Ibnu Hajar didalam kitabnya “Fathul Bari” digunakan untuk kaum kerabat dan mereka adalah orang-orang yang diantara sesama mereka memiliki hubungan nasab, baik mewariskannya atau tidak, baik memiliki hubungan mahram atau tidak. Namun ada juga yang mengatakan : mereka adalah para mahram saja. Namun pendapat pertama lah yang tepat karena pendapat kedua mengharuskan dikeluarkannya (tidak termasuk didalamnya) anak-anak lelaki dari paman baik dari jalur bapak atau ibu dari kalangan dzawil arham, padahal bukanlah demikian. (Fathul Bari juz XVII hal 107)


Continue
- -

Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALLAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Sejak itu Kartini bertekad untuk berupaya untuk memperbaiki citra Islam yang selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah.
....


Waktu SMP dulu saya pernah membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang berisi kumpulan surat-surat Kartini (sekarang buku itu entah dimana L). Meski dulu saya belum begitu faham benar dengan isi buku itu, ada beberapa isi surat yang waktu itu agak ‘mengganggu’ pikiran saya ketika Kartini bersinggungan dengan Islam.

Saya baru-baru ini mendapati beberapa posting yang membahas surat-surat itu serta transformasi spiritual Kartini, saya coba sarikan.

Persinggungan awal Kartini dengan Islam dapat dibaca dari surat-surat berikut:

“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Untuk ukuran seorang perempuan dan ukuran zaman itu (bahkan ukuran zaman sekarang sekalipun) pendapat Kartini ini benar-benar sangat kritis dan sangat berani.

Suatu ketika, takdir membawa Kartini pada suatu pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat yang juga adalah pamannya. Pengajian dibawakan oleh seorang ulama bernama Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar(atau dikenal Kyai Sholeh Darat) tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertarik sekali dengan materi yang disampaikan (ini dapat dipahami mengingat selama ini Kartini hanya membaca dan menghafal Quran tanpa tahu maknanya). Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Berikut ini dialog-nya (ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat).

“Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?”

Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.

“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”. Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.

“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Setelah pertemuan itu nampaknya Kyai Sholeh Darat tergugah hatinya. Beliau kemudian mulai menuliskan terjemah Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada pernikahan Kartini , Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang, tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa.

Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALLAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari kegelisahan dan pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah (how amazing…).

Dalam surat-suratnya kemudian, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. (Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda adalah “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang”).

Nampaknya masa-masa ini terjadi transformasi spiritual bagi Kartini. Pandangan Kartini tentang Barat-pun mulai berubah, setelah sekian lama sebelumnya dia terkagum dengan budaya Eropa yang menurutnya lebih maju dan serangkaian pertanyaan-pertanyaan besarnya terhadap tradisi dan agamanya sendiri.

Ini tercermin dalam salah satu suratnya:

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan” (surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 10 Juni 1902)

Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda :

“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? …. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903]

Bahkan Kartini bertekad untuk berupaya untuk memperbaiki citra Islam yang selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

Di surat-surat lain :

“Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 5 Maret 1902)

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdulloh).” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 1 Agustus 1903)

“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Alloh, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan.” (surat Kartini kepada Nyonya Abandanon, 1 Agustus 1903)

“Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia punm ia sebenar-benarnya bebas” (Surat kepada Ny. Ovink, Oktober 1900)

#sumber: http://bimasislam.kemenag.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=230&catid=49:artikel

Continue
- -

Mari Nyalakan Lilin

Apa arti sebuah lilin dalam kehidupan ? Mungkin ini terlalu dipertanyakan. Sebab lilin hanya sebuah benda kecil. Kegunaannya baru tampak manakala lampu listrik padam. Tapi lilin adalah cahaya. Dan cahaya adalah sebentuk materi. Kebalikannya adalah gelap. Gelap bukan materi, ia tak memiliki daya. Ia adalah keadaan hampa tanpa cahaya. Karena itu, meskipun kecil, lilin selalu dapat mengusir gelap.

Allah memisalkan petunjukNya dengan cahaya, dan kesesatan sebagai gelap. Ini mengisyaratkan, pasukan kesesatan tidak memiliki sedikitpun daya di depan pasukan cahaya. Ia hadir manakala pasukan cahaya menghilang. Sepanjang sejarah, ummat mengalami kesesatan, ketika roda "harokah da'wah" berhenti bergerak.

Disini tersirat sebuah kaidah da'wah. Bahwa gelap yang menyelimuti langit, sebenarnya dapat diusir dengan mudah, bila kita mau menyalakan lilin da'wah. Berhentilah mengu- tuk gelap. Ia toh tak berwujud dan tak berdaya.Tak ada yang dapat kita selesaikan dengan kutukan. Sama halnya dengan ratapan di hadapan bencana. Tak ada guna, sia-sia.

Masih ada sikap lain, yang ijabiah (positif), dalam menghadapi realita. Kenyataan yang paling buruk sekalipun tak boleh melebihi kapasitas jiwa dan iman kita untuk menghadapinya. Ini resep kita.

Maka, dalam gelap lebih baik menutup mata lalu nyalakan lilin dan katakanlah dengan suara mantab, "telah datang kebenaran. Sesungguhnya kebatilan itu pasti sirna".

Continue
- -

Berikut merupakan Ebook berjudul Fiqih Sunnah vol 1 karya Sayyid Sabiq ..



bisa didownload lewat link dibawah ini
download

Continue
- -

Berikut merupakan Ebook berjudul Tamasya Ke Syurga karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah.. file berbentuk .djvu.. untuk membukanya menggunakan djvu viewer yang sudah tersedia di dalamnya..



bisa didownload lewat link dibawah ini
download

Continue
- -

Berikut merupakan Ebook berjudul Al Biyadah Wan Nihayah,, Masa Khulafaur Rasyidin karya Ibnu Katsir ..



bisa didownload lewat link dibawah ini
download

Continue
- -

Berikut merupakan Ebook berjudul Riyadhus Shalihin karya Imam An Nawawi (jilid 1 dan jilid 2) ..



bisa didownload lewat link dibawah ini
Jilid 1


Jilid 2

Continue
- -

Berikut merupakan Ebook berjudul Kunci Kebahagiaan karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah ..



bisa didownload lewat link dibawah ini
download

Continue
- -

Berikut merupakan Ebook berjudul Measurement & Instrumentation Principles karangan Alan S Morris.. Merupakan buku acuan untuk mata kuliah Instrumentasi I prodi elins UGM..



Dapat didownload di bawah ini
download

Continue
- -

Berikut merupakan Ebook berjudul Mencari Pahlawan Indonesia karya Anis Matta..



bisa didownload lewat link dibawah ini
download

Continue
- -

Tidak Imma'ah

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al-A’raaf: 202)

Begitu sulitnya saat ini membedakan antara teman yang baik dengan yang buruk. Padahal kelak teman kitalah yang akan menentukan masa depan dan akhir kesudahan kita di surga atau neraka. Teman yang baik akan membawa kita ke surga, sedangkan teman yang buruk akan menyeret kita ke dalam api neraka.

Rasulullah SAW bersabda: “Jika engkau hendak mengenal seseorang (siapa dan bagaimana dia?), maka lihatlah dengan siapa dia berteman. Maka seperti itulah dia”. (Al Hadits)

Sehingga begitu berarti dan pentingnya kita dalam memilih teman yang akan mempengaruhi pola fikir, jalan/ cara hidup, cara berbicara, dan cara bergaul kita. Lebih lanjut, Nabi SAW mengatakan bahwa: “Sesungguhnya setiap bayi yang dilahirkan itu dalam keadaan suci/ fitroh (Islam), maka kelak keluarga dan masyarakatnyalah (teman) yang akan menjadikan dia Nashrani, Majusi atau Yahudi (Al Hadits).

Dalam sabdanya yang lain: “Jika kau berteman dengan pandai besi, maka engkau akan terkena panas baranya, tetapi jika engkau berteman dengan penjual minyak wangi, maka engkau akan mencium harum wanginya” (Al Hadits).

Untaian-untaian pesan Nabi SAW tersebut adalah sebuah gambaran akan begitu pentingnya memilih teman yang baik dan menjadikan kita semakin taat dan beriman kepada Rabb kita, Allah SWT. Bukan berteman dengan orang yang tidak beriman atau mengajak kita berbuat maksiat dan menyekutukan Allah. Lebih lanjut Allah SWT berfirman:

QS. Ali Imran: 118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh Telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

Terkadang kita cenderung sembarangan dalam memilih teman. Kita memilih teman dengan mengikuti orang lain atau trend yang berkembang dalam masyarakat atau lingkungan tersebut. Jika trend lingkungan didominasi oleh orang yang disegani oleh orang lain karena kebrutalannya, maka kita dianggap nggak gaul atau tidak wajar jika tidak berteman dan mengikuti mereka. Padahal mereka cenderung tergolong sebagai ahli neraka (jika mereka tidak bertobat), daripada ahli surga.

Padahal telah jelas bagi kita, bahwa akhir kesudahan itu hanya ada dua kemungkinan, surga atau neraka! Sementara nanti jika kita telah masuk ke dalam neraka, Allah SWT berfirman:

QS. Al A’raaf: 38. Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang Telah terdahulu sebelum kamu. setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk Kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudiandi antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu"Ya Tuhan kami, mereka Telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak Mengetahui".

Sehingga seperti pesan qudwah kita, Rasulullah SAW lagi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

“Janganlah salah satu di antara kamu sekalian ber-imma’ah (ikut-ikutan), yang jika orang lain baik maka engkau baik; dan jika mereka jelek maka engkau jelek pula.

Akan tetapi hendaklah engkau tetap konsisten terhadap (keputusan) dirimu. Jika orang lain baik, maka engkau baik; dan jika mereka jelek, hendaklah engkau jauhi keburukan mereka”.

Rasulullah SAW memberikan kita sebuah pesan yang melarang kita ikut-ikutan orang berbuat buruk, tetapi kita diharuskan untuk konsisten (istiqomah) dalam kebaikan.

Lalu bagaimana konsisten (istiqomah) dalam kebaikan itu? Supaya kita bisa terus berada dalam kebaikan. Mudah saja, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan:

1. Memilih dan memiliki teman yang jelas arah dan tujuan hidupnya, yaitu untuk beribadah pada Allah SWT.

QS. Ali Imran: 28 : Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi teman dengan meninggalkan orang-orang mukmin.

2. Jauhi tempat-tempat maksiat (nongkrong yang sia-sia menghabiskan waktu) yang berisi orang-orang yang lalai dari mengingat Allah.

3. Tinggalkan orang-orang yang melupakan Allah SWT dan melupakan hari pembalasan.

QS. Jaatsiyah: 34 : Dan dikatakan (kepada mereka): "Pada hari Ini kami melupakan kamu sebagaimana kamu Telah melupakan pertemuan (dengan) harimu Ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong".

4. Jauhi orang-orang yang mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya.

QS. Al A’raaf: 51 : (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia Telah menipu mereka.

Teman seperti apakah yang harus kita pilih? Di mana kita dapatkan?

1. Teman yang dewasa, tetapi bukan teman yang sekedar lebih tua saja. Sebab, lebih tua belum tentu dewasa. Teman dewasa adalah teman yang dewasa aqidahnya, bukan sekedar libidonya. Ia dikenal baik dan mampu membedakan yang baik dengan yang bathil dan mengajarkan serta mengajak berbuat kebaikan.

2. Teman yang pandai dan rajin beribadah, sebab pandai aja gak cukup. Orang pandai ada yang baik ada yang buruk, standard orang pandai yang baik adalah yang rajin ibadah.

3. Teman yang baik berada di tempat yang baik. Di masjid dan musholla, sebab, Nabi SAW senantiasa berpesan: “salah satu golongan yang akan mendapat syafaat pada hari perhitungan nanti adalah pemuda yang hatinya terpaut pada masjid”.

Continue
- -

sebuah babak baru ..

Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Laa Ilaaha Illallah
Allahu Akbar..
Allahu Akbar wa lillaahilham..

kumandang takbir telah berseru.. menjadi pertanda perginya suatu bulan yang sangat dirindu menuju suatu babak yang baru.. ya babak yang baru.. babak baru untuk tetap menempatkan diri kita di posisi siap melaju.. melaju untuk terus mendekatkan diri kepadaNya.. Ramadhan telah pergi namun bukan berarti semangatnya pun ikut pergi.. semangat itu,, semangat beribadah dan beramal,, harus tetap ada di hari2 kita selanjutnya..

Alhamdulillah.. segala puji bagi Allah yang telah berkenan memberikan limpahan nikmatNya kepada kita sehingga kita bisa sampai di akhir Ramadhan.. kita bisa beribadah secara full di bulan Ramadhan.. subhanallah wal hamdulillah,, suatu barakah yang luar biasa yang hendaknya kita syukuri.. dan alhamdulillah pula kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk bertakbir meagungkan namaNya.. sungguh suatu nikmat yang tiada tara..

takbir,, takbir,, dan takbir.. bergema begitu indah menghiasi malam yang berseri.. subhanallah.. meski malam ini berbeda dari sebelum2nya namun alhamdulillah tetaplah memberikan arti di hati.. ditahun2 sebelumnya kuhiasi malam takbiran ini dengan bertakbir keliling bersama teman2 dan adek2 kecil nan lucu.. dibalut atribut nan unik.. berkeliling desa mengumandangkan takbir.. ya seperti itulah biasanya.. namun hari ini berbeda,, ku tak bisa ikut membersamai mereka.. walau begitu ku tetap bersyukur kepada Allah karena masih memberikan kesempatan kepadaku untuk tetap mengagungkan namaNya.. bertakbir dengan metode yang berbeda.. yang terpenting terletak pada niatnya..

ya semoga kumandang2 takbir yang kita lantunkan bisa menjadi peingat bagi kita.. semoga senantiasa mengingatkan kita kepada Allah.. agar kemudian semangat bertaqarrub kepada Allah di bulan Ramadhan tidak sirna.. agar semangat itu tetap ada di hari2 kita selanjutnya.. ramadhan telah pergi namun babak baru sudah menanti.. tetap semangat kawanku.. mari kita tanamkan dan hidupkan selalu semangat Ramadhan di hati ini..

Taqaballallahu minna wa minkum..
mohon maaf lahir dan batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H

Continue
- -

sebuah tanda tanya ..

semalam merupakan tarawih terakhir di bulan Ramadhan 1431 H ini.. ada perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata2.. mungkin kucoba gambarkan dengan sebuah kalimat.. "sebuah tanda tanya".. sebuah tanda tanya,, ya sebuah tanda tanya.. ketika ku coba flash back awal Ramadhan di tahun ini, ku temui fenomena yang membuatku gembira.. luar biasa,, tarawih di hari pertama.. begitu ramai,, begitu penuh,, begitu antusias.. sampai2 tempatnya tidak cukup karena begitu banyaknya jamaah yang hadir.. hingga kemudian perlu mengambil tambahan tikar dan digelar di halaman masjid agar jamaah yang berdatangan tetap mendapatkan tempat untuk sholat.. subhanallah.. ku berkata dalam hati,, "luar biasa.. semoga suasana ini bisa terus berlangsung".. masjid begitu ramai dipenuhi jamaah yang ingin melaksanakan sholat.. suasana yang begitu menggembirakan bagi orang ynag menyaksikannya.. sayang suasana itu hanya berlangsung beberapa hari saja di bulan Ramadhan.. lama kelamaan mulai berkurang dan berkurang.. hilang 1 shaf,, 2 shaf,, 3 shaf.. ya mungkin itulah yang namanya seleksi.. hingga kemudian muncullah sebuah tanda tanya di pikiranku.. tanda tanya yang melekat hingga akhir Ramadhan ini.. sebuah tanda tanya yang kemudian menjadi semakin bertambah besar ketika kumelihat fenomena di akhir Ramadhan ini,, tepatnya pada sholat tarawih terakhir semalam.. ketika ku keluar dari pintu rumah,, kulihat banyak warga datang menuju masjid.. waktu itu ku berangkat dengan ayah.. aku berkata "ramai sekali hari ini.." ayah kemudian menimpali "ya namanya aja tarawih terakhir".. hmm.. benar juga.. ternyata semuanya karena tarawih terakhir.. walaupun tak kutahu dengan pasti kenapa momen tarawih terakhir membuat jamaah berbondong2 berdatangan ke masjid.. ketika sampai di masjid,, kulihat shaf sudah hampir penuh.. luar biasa,, jumlahnya tidak begitu jauh berbeda dengan tarawih pertama kali.. ketika sholat hampir dimulai,, kudengar obrolan dua orang sahabat.. ada yang berkata "bengi iki rame" ada yang menimpali "iyo tarawih terakhir.. mung teko awal karo akhire tok.." setidaknya begitu lah redaksi yang kuingat.. sebuah obrolan yang lucu namun juga menyedihkan.. tanda tanya itu pun semakin besar.. "Ada Apakah dengan Semua Ini?" ya ada apa dengan semua ini.. Ramadhan seakan-akan hanya menjadi ritual tahunan belaka.. hanya menjadi budaya yang kemudian terlupakan maknanya.. sebuah tanda tanya pula untuk diriku.. masih belum bisa memaknai Ramadhan dengan baik.. masih belum bisa menjadikan Ramadhan benar2 bermakna.. apakah kemudian diri ini masih mejadikan Ramadhan sebagai ritual dan budaya belaka? sebuah tanda tanya yang harus segera ditemukan jawabannya.. Semoga Allah memberikan ampunan dan barakahNya kepada kita semua.. Semoga amal2 Ramadhan kita kali ini benar2 bisa mendatangkan ridha dari Allah SWT.. Semoga Allah masih berkenan untuk menyampaikan kita di bulan Ramadhan tahun depan.. Mari kita tetap tanamkan "Semangat Ramadhan" di hari2 kita selanjutnya..

Continue
- -

Selain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah ‘azimat’ Nabi tatkala memasuki Ramadhan.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”
“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah)

sumber: Hidayatullah.com

Subhanallah begitu besar pahala kebaikan yang Allah sediakan di bulan Ramadhan.. Karena itu marilah kita sambut Ramadhan dengan mempersiapkan diri kita dengan baik,, agar Ramadhan kita kali ini tidak sia-sia..

Continue
- -

Berikut merupakan Ebook Novel berjudul "Dalam Mihrab Cinta" karya Habiburrahman El Shirazy..



bisa didownload lewat link dibawah ini
download

Continue
- -

Berikut merupakan Ebook berjudul Fiqh Minoriti karya Dr. Yusuf Qardhawi..



bisa didownload lewat link dibawah ini
download

Continue
- -

Serial Cinta - Anis Matta

Berikut merupakan Ebook berjudul Serial Cinta karya Anis Matta..



bisa didownload lewat link dibawah ini
download

Continue
- -

Berikut merupakan Ebook berjudul Menggairahkan Perjalanan Halaqah karya Satria Hadi Lubis..



bisa didownload lewat link dibawah ini

Continue
- -

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

subhanallah
wallahu alam

Continue
- -

Tauhidullah part2

Tauhid Ilahiyah
Kata Ilaha berakar kata pada a-la-ha (alif-lam-ha) yang mempunyai arti antara lain tentram, tenang, lindungan, cinta dan sembah (‘abada). Semua kata-kata ini relevan dengan sifat-sifat dan kekhususan zat Allah SWT sepeti yang dinyatakan Alllah dalam kitab suci alQur’an:
“Dan orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah lah hati menjadi tentram.” (Ar Ra’du: 28)
“Aku berlindung kepada Allah akan termasuk orang-orang yang jahil.” (Al Baqarah: 67)
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (Al Baqarah: 165)
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan). Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thagut.” (An Nahl: 36)

Di antara makna Ilah di atas yang paling asasi adalah makna ‘abada (‘ain-ba-dal) yang mempunyai beberapa arti, antara lain: hamba sahaya (‘abdun), patuh dan tunduk (‘ibadah), yang mulia dan agung (al ma’bad), selalu mengikutinya (‘abada bih). Jika arti kata-kata ini diurutkan maka akan menjadi susunan kata yang sangat logis yaitu: Bila seseorang menghambakan diri pada seseorang maka ia akan mengikutinya, mengagungkannya, memuliakannnya, mematuhi dan tunduk kepadanya serta mengorbankan kemerdekaannya. Dalam konteks ini “al ma’bud” berarti memiliki, yang dipatuhi dan yang diagungkan (AL Islam, 1979, 23-24)

Jadi Tauhid Ilahiyah adalah mengimani Allah SWT satu-satunya Al ma’bud (yang disembah). Dalam hal ini Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku (beribadahlah) dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.” (Thaha: 14) (titik tekan muwashofat mengikhlaskan amal hanya untuk Allah swt)

Tauhid Asma Wash-Shifat
Makna tauhidul asma wa-shifat (mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifat-Nya) adalah meyakini secara mantap bahwa Allah swt menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan suci dari segala sifat kekurangan dan bahwa Dia berbeda dengan seluruh makhluk-Nya. Caranya adalah menetapkan (mengakui) nama-nama dan sifat-sifat Allah yang yang Dia sandangkan untuk Dirinya atau disandangkan oleh Rasulullah saw dengan tidak melakukan tahrif (pengubahan) lafadz atau maknanya, tidak ta’thil (pengabaian) yakni menyangkal seluruh atau sebagian nama dari sifat itu, tidak takyif (pengadaptasian) dengan menentukan esensi dan kondisinya dan tidak tasybih (penyerupaan) dengan sifat-sifat makhluk.
Dari definisi di atas, jelaslah bahwa tauhidul asma was-shifat berdiri di atas tiga asas. Barang siapa menyimpang darinya, maka ia tidak termasuk orang yang mengesakan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya. Ketiga asas itu adalah:
1.menyakini bahwa Allah Mahasuci dari kemiripan dengan makhluk dan dari segal kekurangan.
2.mengimani seluruh nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah tanpa mengurangi atau menambah-nambahi dan tanpa mengubah atau mengabaikannya.
3.menutup keinginan untuk mengetahui kaifiyyah(kondisi) sifat-sifat itu.


Adapun asas yang pertama, yakni meyakini bahwa Allah Mahasuci dari kemiripan dengan makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya. Ini didasarkan pada firman Allah swt:

“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlas(112) :4)

“Maka janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah.” (QS.16:74)

Al-Qurtubi, saat menafsirkan firman Allah ”Tidak ada yang sama dengannya sesuatu apapun,” mengatakan,”Yang harus diyakini dalam bab ini adalah bahwa Allah swt, dalam hal keagungan, kebesaran, kekuasaan, dan keindahan nama serta ketinggian sifat-Nya, tidak satupun dari makhluknya yang menyerupai-Nya dan tidak pula dapat diserupakan dengan makhluk-Nya. Dan sifat yang oleh syariat disandangkan kepada Pencipta dan kepada makhluk, pada hakikatnya esensinya berbeda meskipun lafaznya sama. Sebab, sifat Allah Yang tidak berpemulaan (qadim) pasti berbeda dengan sifat makhluk-Nya.
Al Wasithi mengatakan,”Tidak ada dzat yang sama dengan dzat-Nya;tidak ada nama yang sama dengan nama-Nya;tidak ada perbuatan yang sama dengan perbuatan-Nya, tidak ada sifat yang sama dengan sifat-Nya kecuali dari sisi lafaznya saja. Mahasuci Dzat Yang Qadim dari sifat-sifat makhluk. Sebagaimana adalah mustahil makhluk memiliki sifat-sifat Pencipta. Dan, inilah mazhab para pemegang kebenaran, yakni Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah.
Sayyid Qutb mengatakan, saat menafsirkan ayat tersebut di atas,”Fitrah pasti akan mengimani hal ini. Bahwa Pencipta segala sesuatu tidak akan dapat disamakan dalam hal sekecil apa pun oleh makhluk-Nya.
Dan masuk dalam asas pertama ini, menyucikan Allah swt dari segala yang bertentangan dengan siat yang Dia sandangkan untuk Dirinya atau dengan sifat yang disandangkan oleh Rasulullah saw. Jadi mengesakan Allah dalam hal sifat-sifat-Nya menuntut seseorang Muslim untuk meyakini bahwa Allah tidak mempunyai istri, teman, tandingan, pembantu, dan syafi’(pemberi safa’at)—kecuali atas izin-Nya. Dan juga menuntut seorang Muslim untuk menyucikan Allah dari sifat tidur, lelah, lemah, mati, bodoh, zalim, lalai, lupa, kantuk, dan sifat-sifat kekurangan lainnya.

Adapun asas kedua, mewajibkan kita untuk membatasi diri pada nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Nama-nama dan sifat-sifat itu harus ditetapkan berdasarkan wahyu bukan logika. Jadi, tidak boleh menyandangkan sifat atau nama kepada Allah kecuali sejauh yang ditetapkan oleh Allah untuk Dirinya atau ditetapkan oleh Rasulullah saw. Sebab Allah swt Mahatahu tentang Dirinya, sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya. Ia berfirman:
“Katakanlah, kalian yang lebih tahu atau Allah?”(QS. Al Baqarah (2):140)

Nah bila Allah yang lebih tahu tentang Dirinya, dan para Rasul-Nya adalah orang-orang jujur dan selalu membenarkan segala informasi dari-Nya, pasti mereka tidak akan menyampaikan selain dari apa yang diwahyukan oleh-Nya kepada mereka. Karenanya, dalam urusan mengukuhkan atau menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah wajib merujuk kepada informasi dari Allah dan Rasul-Nya. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan,”Tidak boleh menyandangkan sifat kepada Allah selain dari apa yang disandangkan oleh Dirinya sendiri atau oleh Rasul-Nya; tidak boleh melangkahi Al-quran dan Hadist.”
Nu’aim bin Hammad, guru Imam Al-Bukhari, mengatakan,”Barang siapa menyamakan Allah dengan makhluk, maka ia kafir. Barang siapa menolak sifat Allah yang disandangkan-Nya untuk Dirinya atau disandangkan oleh Rasul-Nya maka ia kafir. Dan dalam sifat-sifat Allah yang disandangkan oleh-Nya atau oleh Rasul SAW tidak ada kesamaan atau kemiripan dengan sifat-sifat makhluk-Nya.”

Adapun asas yang ketiga menuntut manusia yang mukallaf untuk mengimani sifat-sifat dan nama-nama yang ditegaskan oleh Al-Quran dan Sunnah tanpa bertanya tentang kaifiyyah (kondisi)-Nya, dan tidak pula tentang esensinya. Sebab, mengetahui kaifiyyah sifat hanya akan dicapai manakala mengetahui kaifiyyah dzat. Karena sifat-sifat itu berbeda-beda, tergantung pada penyandang sifat-sifat tersebut. Dan Dzat Allah tidak berhak dipertanyakan esensi dan kaifiyyah-Nya. Maka, demikian pula sifat-sifat-Nya, tidak boleh dipertanyakan kaifiyyah-Nya.
Karenanya, ketika para ulama salaf ditanya tentang kaifiyyah istiwa (cara Allah bersemayam) mereka menjawab,”Istiwa itu sudah dipahami, sedang cara-caranya tidak diketahui; mengimaninya(istiwa) adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Jadi, kaum salaf sepakat bahwa kaifiyyah istiwa itu tidak diketahui oleh manusia dan bertanya tentang hal itu adalah bid’ah.
Jika ada seseorang bertanya kepada kita,”Bagaimana cara Allah turun ke langit dunia?”maka kita tanyakan kepadanya, “Bagaimana Dia?” jika ia mengatakan,”Saya tidak tahu kaifiyyah Dia.”maka kita jawab, “Makanya kita tidak tahu kaifiyyah Dia. Sebab untuk mengetahui kaifiyyah sifat harus mengetahui terlebih dahulu kaifiyyah dzat yang disifati itu. Karena, sifat itu adalah cabang dan mengikuti yang disifati. Jadi, bagaimana Anda menuntut kami untuk menjelaskan cara Allah mendengar, melihat, berbicara, istiwa, padahal Anda tidak tahu bagaimana kaifiyyah dzat-Nya. Maka, jika anda mengakui bahwa Allah adalah wujud yang hakiki yang pasti memiliki segala sifat kesempurnaan dan tidak ada yang menandinginya, maka mendengar, melihat, berbicara, dan turunnya Allah tidak dapat digambarkan dan tidak bisa disamakan dengan makhluk-Nya.

Dari penjelasan di atas, kita dapat mengetahui bahwa tauhid al asma wash-shifat ini dapat rusak dengan beberapa hal berikut:
1. Tasybih
Yakni menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk. Seperti yang dilakukan orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al Masih bin Maryam dengan Allah SWT;orang Yahudi menyerupakan ‘Uzair dengan Allah;orang-orang musyrik menyerupakan patung-patung mereka dengan Allah;beberapa kelompok yang menyerupakan wajah Allah dengan wajah makhluk, tangan Allah dengan tangan makhluk, pendengaran Allah dengan pendengaran makhluk, dan lain sebagainya.
2. Tahrif
Artinya mengubah atau mengganti. Yakni mengubah lafadz-lafadz nama Allah dengan menambah atau mengurangi atau mengubah harakah i’rabiyyah, atau mengubah artinya, yang oleh para ahli bid’ah diklaim sebagai takwil, yaitu memahami satu lafadz dengan makna yang rusak dan tidak sejalan dengan makna yang digunakan dalam bahasa arab. Seperti pengubahan kata dalam firman Allah wa kallamallahu musa taklima menjadi wa kallamallaha. Dengan demikian, mereka bermaksud menafikan sifat kalam (berbicara) dari Allah swt.
3. Ta’thil (pengabaian, membuat tidak berfungsi)
Yakni menampik sifat Allah dan menyangkal keberadaannya pada Dzat Allah swt, semisal menampik kesempurnaan-Nya dengan cara membantah nama-nama dan sifat-sifat-Nya; tidak melakukan ibadah kepada-Nya, atau menampik sesuatu sebagai ciptaan Allah swt, seperti orang yang mengatakan bahwa makhluk-makhluk ini qadim (tidak berpermulaan dan menyangkal bahwa Allah telah mencipatkan dan membuatnya).
4. Takyif (mengkondisikan) yakni menentukan kondisi dan menetapkan esensinya
Manhaj dalam memahami nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al-quran dan Sunnah tanpa melakukan tasybih, tahrif, ta’thil dan takyif ini merupakan mazhab salaf, yakni kalangan sahabat—semoga Allah meridhai mereka semua, tabi’in, dan tabi’ut –tabi’in. Asy-Syaikani mengatakan:
“Sesungguhnya, mazhab salaf, yakni kelangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in adalah memberlakukan dalil-dalil tentang sifat-sifat Allah sesuai dengan zahirnya tanpa melakukan tahrif, takwil, yang dipaksakan, dan tidak pula ta’thil yang mengakibatkan terjadinya banyak takwil. Dan jika mereka ditanya tentang sifat-sifat Allah meraka membacakan dalil lalu menahan diri dari mengatakan pendapat itu dan ini, seraya mengatakan, Allah mengatakan demikian dan kami tidak mengetahui lebih dari itu. Kami tidak akan memaksakan diri untuk berbicara apa yang tidak kami ketahui dan apa yang tidak Allah izinkan untuk kami lampaui. Jika sipenanya itu menginginkan penjelasan melebihi dari yang zahir, maka mereka segera melarangnya agar tidak menenggelamkan dalam hal yang tidak berguna dan mencegah dari mencari apa yang tidak mungkin mereka capai selain terjerumus dalam bid’ah dan dalam hal yang tidak diajarkan Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat dan tabi’in. Dan pada masa itu, pendapat tentang asma was-shifat adalah satu. Dan cara memahaminya juga sama.
Kesibukan mereka saat itu adalah melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan tugaskan kepada mereka untuk dilaksanakan. Yakni beriman kepada Allah, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat dan puasa, haji, jihad, infaq, mencari ilmu yang bermanfaat, membimbing manusia kepada kebaikan, memerintah yang makruf dan mencegah yang munkar, dan sebagainya. Dan, mereka tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak dibebankan kepada mereka atau dengan hal-hal yang kalaupun dilaksanakan tidaklah merupakan ibadah, seperti mencari hakikat nama-nama dan sifat-sifat itu. Karenanya, pada masa itu agama Islam bersih dari debu-debu bid’ah.

Tauhidullah
oleh :
Ustadz Prof. Dr. Muhammad Nuim Yassin dan
Ustadz Dr. Yunahar Ilyas

Continue